in

Asal-usul Mural yang Sering Menghiasi Tembok di Pinggir Jalan

mural
foto: Pixabay

Ngobrolin.id — Pasti kamu sudah tidak asing dengan mural yang dapat ditemui di pinggir-pinggir jalan. Bahkan, beberapa waktu ini masyarakat dihebohkan dengan mural yang terletak di wilayah Batuceper, Kota Tangerang, dan di Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Mural tersebut sampai dihapus oleh aparat gabungan dengan cat hitam.

Mural memang bukan hal baru yang digunakan untuk menyampaikan keresahan. Dilansir dari cnnindonesia.com, mural merupakan karya seni yang dilukis di dinding. Seni lukis ini dibuat dalam ukuran yang besar sehingga orang yang melintas dapat langsung melihatnya tanpa perlu berhenti dan memerhatikan secara saksama.

Karya seni ini sudah ada sejak 30000 tahun Sebelum Masehi (SM). Lukisan mural pertama di dunia bisa kamu temui di gua di Chauvet, Prancis.

Melukis di dinding terus berkembang hingga ke zaman Paleolitik Atas. Hal ini dibuktikan dari lukisan yang ditemukan di Mesir pada 3150 SM, di Pompeii pada 100 SM hingga 79 SM, dan di Milan pada 1700—1600 SM.

Seiring berjalannya waktu, seni melukis ini terus berkembang hingga akhirnya menggunakan berbagai teknik, salah satunya teknik fresco secco yang populer di abad ke-14. Teknik fresco menggunakan campuran cat air dan kapur yang dituangkan ke permukaan dinding untuk membentuk gambar. Warna pada lukisan baru muncul setelah cat yang dituangkan tersebut mengering.

Selain teknik fresco, ada juga teknik maroulage. Kini, teknik seni mural semakin berkembang. Meksiko tercatat sebagai pelopor seni mural modern.

Pada 1939 muncul seni mural bernama grafiti, yakni lukisan di dinding yang berbentuk tulisan. Seni tersebut muncul saat perang dunia kedua dan digunakan sebagai media perlawanan. Seniman di Spanyol menulis tanda ‘V’ di dinding setelah terjadi pemboman RAF sebagai bentuk dukungan terhadap sekutu.

Sementara, selama masa Perang Sipil, pelukis grafiti menggunakan seni ini sebagai panggilan untuk aksi protes. Mereka menulis huruf P di dinding sebagai alat untuk menyebarkan informasi.

Tak hanya di luar negeri, mural juga sering digunakan untuk menyampaikan kritik sosial di Indonesia.

 

 

generasi X

Ini Dia yang Dimaksud Generasi X, Y, dan Semacamnya

foto makanan

Tips Foto Makanan yang Bagus dengan Menggunakan Hape