in

Bisakah Memulai Bisnis dengan Modal Kecil?

image: Pixabay

Alasan utama orang membuka usaha adalah faktor ekonomi. Kalau misalnya ada yang berbisnis dimulai dari hobi, jumlahnya jauh lebih sedikit daripada faktor ekonomi ini. Karena terdesak kebutuhan ekonomi, sebagian orang memilih untuk menjadi pekerja, dan sebagian lagi memilih untuk berbisnis. Risiko menjadi pekerja memang mudah. Bekerja sesuai dengan tugas yang diberikankan kepadanya, lalu setiap bulan mendapat gaji. Namun, untuk melamar pekerjaan kadang tidak mudah. Kendati sudah melamar ke beberapa perusahaan, ternyata hasilnya selalu ditolak. Bahkan terkadang, seseorang mentok untuk mendapatkan kerja kantoran karena masalah ijazah. Jika hanya memiliki ijazah SD atau SMP, ia harus puas bekerja sebagai cleaning service, buruh bangunan, atau bahkan menjadi pembantu rumah tangga.

Bagi orang yang sudah bosan ditolak di sana-sini, atau mendapat pekerjaan tapi tidak sesuai keinginan, tidak sedikit yang kemudian memilih berjualan demi memenuhi kebutuhan hidup yang terus bertambah. Namun, mereka yang ingin berwirausaha seringkali mengalami kendala utama, yaitu masalah pemodalan. Mayoritas orang menganggap bahwa memulai usaha harus dimulai dengan modal besar. Benarkah demikian?

Ada kisah seorang teman yang dulu pernah membuka usaha pakaian muslimah. Ia bermitra dengan sahabat yang menurutnya memiliki perencanaan yang bagus dalam hal bisnis. Menurut perhitungan analisis modal yang dilakukan oleh sahabatnya, untuk membuka usaha ini membutuhkan dana sekitar Rp 25 juta. Dana tersebut dialokasikan untuk menyewa tempat (sebuah toko kecil di kawasan yang banyak dihuni para mahasiswa sebuah perguruan tinggi), membeli peralatan, seperti kepala boneka sebagai pajangan (manekin), ranjang besi, tempat pajangan, dan baju-baju Muslim beserta aksesorisnya.

Ketika ia mengemukakan ide untuk berjualan ini kepada orang tuanya, orang tuanya langsung menyetujui dan mengucurkan dana sebagai modal awal dan jadilah toko kecil penjual pakaian muslimah. Setelah sekian bulan berjalan ternyata bukan keuntungan yang didapatkan. Modal malah semakin menyusut sampai akhirnya toko itu tutup. Modal awal sebesar Rp 25 juta lenyap hanya bersisa perlengkapan toko, seperti kepala manekin, ranjang besi, tempat pajangan, dan beberapa potong baju.

Bukan hanya kerugian materi, ia pun seperti tidak memiliki muka lagi di depan orang tuanya. Ia ingin mengembalikan kepercayaan orang tuanya dan terus berpikir untuk membangun usaha yang menghasilkan. Namun, kali ini ia tidak mau lagi memakai modal besar. Selain trauma, dananya juga tidak ada. Akhirnya, ia berpikir untuk membangun usaha baju rajutan. Ide ini ia dapatkan dari tetangganya yang sudah lebih dulu membangun usaha ini. Kepada tetangganya ini, ia sengaja datang dan belajar rajut. Setelah mengusai bagaimana membuat baju rajutan dengan mesin rajut, ia merasa percaya diri untuk memulai usaha. Modal awalnya ia dapatkan dari jatah bulanan kiriman orangtunya sebesar Rp 1 juta. Berkat kerja keras dan ketekunannya dalam waktu beberapa bulan ia bisa meningkatkan pendapatannya hingga Rp 8—15 juta per minggu.

Kisah ini sudah cukup menunjukkan kepada kita bahwa ternyata modal besar tidak menjamin usaha pasti sukses. Apalagi kalau tidak didukung dengan manajemen dan pemasaran yang bagus. Sebaliknya, meski bermodal kecil, bila dibangun dengan kerja keras dan keuletan, modal pun akan berkembang besar.

Melihat Peluang Menjadi Reseller Frozen Food

Mengenal Sejarah Kopi, si Hitam yang Menyegarkan