in ,

Catatan dan Sentilan untuk Orang Tua di Hari Anak Nasional

Hari Anak Nasional
Foto: Pixabay

Ngobrolin.id — Hari Anak Nasional diperingati setiap 23 Juli. Tahukah kamu? Hari penting bagi anak-anak Indonesia ini ditetapkan oleh Presiden RI ke-2, Soeharto, 35 tahun silam. Penetapan ini dilakukan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1984. Anak-anak dianggap sebagai aset penting. Anak harus dilindungi untuk kemudian menjadi penerus bangsa.

Keppres tersebut setidaknya berbunyi bahwa anak merupakan generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa. Karenanya, bekal untuk anak perlu dijamin dengan baik. Usaha pembinaan, khususnya orangtua, juga menjadi titik penting bagi anak.

Tetapi, 35 tahun setelah Keppres ditetapkan, upaya untuk menjamin kesejahteraan dan perlindungan anak seolah menemukan rintangan besar. Sebab, alih-alih mendapatkan perlindungan yang baik, anak-anak justru kian rentan menjadi korban kekerasan.

Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) pada 2018 lalu, menunjukkan 2 dari 3 anak dan remaja di Indonesia pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya.

Apa yang dialami anak itu meliputi kekerasan seksual, kekerasan emosional, dan kekerasan fisik. Sebagian kekerasan bahkan dilakukan oleh lingkungan terdekat, termasuk keluarga. Nah, nggak cuma jadi korban, survei juga menemukan anak sebagai pelaku kekerasan. Sebanyak 3 dari 4 anak melaporkan pernah melakukan kekerasan emosional dan fisik terhadap teman sebaya.

Selain itu, data menunjukkan bahwa rumah dan lingkungan sekolah tak lagi memberikan rasa nyaman dan jaminan atas perlindungan anak.

“Kedua tempat ini justru menjadi tempat yang menakutkan bagi anak,” ujar Ketua Komnas Anak, Arist Merdeka Sirait, melalui keterangan pers, Senin (22/7).

Menurutnya, ketahanan keluarga, telah tergerus dan mulai pupus. Pola pengasuhan anak yang telah bergeser mengakibatkan keluarga tak lagi menjadi tempat yang nyaman bagi anak.

“Keluarga bahkan tak bisa menjadi garda terdepan perlindungan anak,” ujar Arist.

Dia menilai, pola pengasuhan anak saat ini tak menekankan pada unsur dialog partisipatif. Pola pengasuhan ini mementingkan adanya keterbukaan dan menjadikan keluarga sebagai guru utama bagi anak. Perlu adanya perubahan paradigma pola pengasuhan dalam keluarga yang otoriter menjadi pola pengasuhan yang menekankan pada dialog partisipatif.

“Keluarga harus menjadi guru utama bagi anak,” kata dia.

Peringatan Hari Anak Nasional 2019 kali ini mengambil tema pentingnya peran orangtua dalam rangka perlindungan anak. Pola pengasuhan dan perlindungan yang tepat dapat menciptakan kegembiraan anak yang terbebas dari ancaman kekerasan sebagaimana yang diharapkan.

lagu terbaik Fourtwnty

Dengarkan Lagu Terbaik Fourtwnty, Ini Daftarnya