in ,

Kenali Gejala Diseleksia pada Anak

Bisa dilihat dari hal-hal sederhana

gejala diseleksia
Foto: freepik

Ngobrolin.id — Halo Moms, bagaimana kabar si kecil hari ini? Setelah si kecil mulai beranjak dewasa, sering kali kita memberikan pendidikan lebih kepadanya. Mulai dari belajar menggambar dan mewarnai, hingga membaca dan berhitung jadi kegiatan sehari-harinya. Tak jarang, ada orangtua yang terbawa emosi saat si kecil tak kunjung bisa. Jangan segera salahkan anak. Sebab, bisa jadi hal tersebut merupakan gejala diseleksia.

Diseleksia adalah gangguan proses belajar. Ciri utamanya adalah anak akan mengalami kesulitan saat membaca, mengeja, ataupun menuliskan kata-kata. Anak yang menderita gangguan ini akan sulit mendefinisikan kata yang ia ucapkan. Mereka juga kesulitan saat mengubahnya menjadi huruf ataupun menyusunnya dalam kalimat.

Gangguan diseleksia dapat terjadi karena adanya gangguan pada saraf otak yang memproses bahasa. Meskipun demikian, diseleksia tidak memengaruhi kecerdasan si kecil. Sebab, ada banyak spektrum kecerdasan di luar pengetahuan akan bahasa. Bisa jadi, si kecil justru ahli di bidang lainnya.

Gejala diseleksia bisa ditunjukkan oleh anak yang berusia 1—2 tahun. Meskipun demikian, gejala ini juga bisa muncul ketika anak sudah mulai beranjak dewasa. Hal ini karena seiring berjalannya waktu, anak akan belajar membaca ketika sudah bersekolah. Tentu akan terlihat bagaimana anak kesulitan dalam berkata-kata.

Anak dengan gejala diseleksia dapat dikenali dari perkembangan bicaranya yang lebih lamban dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Mereka kesulitan memproses dan memahami apa yang didengar. Tak hanya kesulitan mengolah informasi, mereka juga mengalami kesulitan menyusun informasi tersebut untuk disampaikan kembali.

Misalnya, saat seorang anak diberi pertanyaan, mereka akan kesulitan menemukan kata yang tepat sebagai jawaban pertanyaan tersebut. Mereka juga sering mengucapkan kata yang tidak umum karena kesulitannya tersebut.

Diseleksia akan lebih cepat diketahui saat belajar bahasa asing. Sebab, anak akan semakin kesulitan dalam mencerna informasi yang ia terima. Akibatnya, mereka pun kesulitan mengingat.

Di sekolah, anak dengan gejala diseleksia akan lebih lamban perkembangannya. Mereka cenderung lamban mempelajari nama dan bunyi abjad. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan menyelesaikan tugas baca-tulis.

Anak-anak pun menjadi tidak suka dengan baca tulis. Mereka sering salah saat mengucapkan nama atau kata. Saat ditulis, beberapa huruf dan abjad dapat terbalik. Misalnya, huruf ‘b’ menjadi ‘d’ dan ‘p’ menjadi ‘q’.

Kasih Sayang kepada Orang Tua

Mawang dan ‘Kasih Sayang kepada Orang Tua’-nya yang Viral

tanda mantan

Ayo Move On, Mantan Sudah Menganggapmu Masa Lalu