in ,

Makna Kasih Orangtua Terhadap Anak di Film Perempuan Tanah Jahanam

Perempuan Tanah Jahanam
foto: instagram @perempuantanahjahanam

Ngobrolin.id — Sebelum lanjut membahas lebih jauh, sebaiknya tonton dulu film ini buat kamu yang belum nonton, karena akan membahas banyak spoiler dari film Perempuan Tanah Jahanam. Gak enak kan kalau baca spoiler dulu terus baru nonton? Nanti kamu jadi tidak satu frekuensi.Kamu bisa tonton di Goplay, kanal streaming resmi yang bisa kamu akses.

Perempuan Tanah Jahanam atau biasa disingkat dengan PTJ merupakan film horor kesekian karya Joko Anwar. Film ini terbilang cukup dinanti-nantikan oleh penggemar film horor karena cara promosi film yang bisa dibilang cukup sukses membuat penonton penasaran.

Tim Ngobrolin mau kasih rating untuk film Perempuan Tanah Jahanam sekitar 7,5/10. Sebenarnya, film ini terbilang bagus untuk ditonton. Seluruh persiapan dilakukan secara matang, mulai dari set lokasi hingga adegan pemain yang terlihat sangat totalitas. Hanya saja, ada beberapa hal ganjil seperti plot hole yang membuat akhir cerita film ini menjadi kurang greget. Entah akan ada PTJ kedua atau tidak, yang jelas sayang banget karena menurut kami film ini sudah bagus.

Setelah menonton hingga usai, makna utama yang bisa diambil dari film Perempuan Tanah Jahanam adalah kasih orangtua terhadap anak. Di mulai dari Bimo yang harus pergi ke Jakarta untuk mencari keberadaan Rahayu atau Maya untuk membebaskan kutukan Desa Harjosari.

Sejak kecil, Maya diasuh oleh bibinya di Jakarta dengan kondisi yang sederhana. Namun, siapa sangka jika Maya memiliki harta berupa rumah besar di Desa Harjosari peninggalan orangtua Maya, yaitu Ki Donowongso dan Nyai Sinta. Ki Donowongso merupakan dalang sekaligus orang kaya di desa tersebut.

Sayangnya, Maya tidak tahu kalau warga desa setempat tidak menginginkan keberadaannya. Di desa tersebut ada seorang dalang terkenal yang bernama Ki Sapta. Dia adalah anak Nyai Misni, pekerja di rumah keluarga besar Ki Donowongso.

Setelah lima tahun perkawinan, akhirnya Ki Donowongso dan Nyai Sinta mendapatkan keturunan. Sayangnya, bayi yang dilahirkan Nyai Sinta terlahir tanpa kulit. Akhirnya, Ki Donowongso melakukan perjanjian dengan setan untuk menyembuhkan buah hatinya. Dia menculik tiga anak perempuan dan menggunakan kulitnya sebagai kulit wayang. Usahanya berhasil dan anak Ki Donowongso sembuh.

Ternyata, anak yang dikandung Nyai Sinta merupakan hasil hubungan gelap dengan Ki Sapta yang dahulu merupakan pekerja di rumah Ki Donowongso. Untuk melindungi anaknya dari masalah, Nyai Misni membuat Ki Sapta lupa akan kejadian tersebut dan memantrai janin Nyai Sinta agar keguguran. Sayangnya, bukannya gugur malah terlahir tanpa kulit.

Selanjutnya, desa tersebut terkutuk dan bayi yang baru lahir akan terlahir tanpa kulit. Orang-orang desa tersebut ingin membebaskan kutukan tersebut agar mereka bisa memiliki anak yang normal.

Dari sini kita bisa lihat betapa berat perjuangan para orangtua di Desa Harjosari yang ingin memiliki dan melindungi anak mereka. Di satu sisi yang lain, penyebab desa menjadi terkutuk, Nyai Misni dan Ki Donowongso sampai rela melakukan ritual agar anaknya selamat dan baik-baik saja, meskipun pada akhirnya mereka harus membayar apa yang sudah mereka lakukan seperti kehilangan nyawa.

 

 

 

 

 

kacamata antiradiasi

Manfaat Kacamata Antiradiasi, Penting Gak Sih?

album super junior

Album Super Junior The Renaissance Rilis 2021