in ,

Menerjemahkan Buku, Menjangkau Pembaca Baru dan Pemasaran yang Lebih Luas

buku yang diterjemahkan dapat menjadikan buku Indonesia dikenal dunia

menerjemahkan buku
foto pixabay

Ngobrolin.id — Banyak karya sastra Indonesia yang memiliki daya tarik dan diminati oleh warga asing. Sayangnya, sebelum ajang Frankfurt Book Fair 2015 di mana Indonesia menjadi Guest of Honour (tamu kehormatan) masih sedikit karya anak bangsa tersebar luas karena keterbatasan bahasa. Nah, peluang menerjemahkan buku untuk menjangkau pembaca baru dan pemasaran yang lebih luas masih terbuka lebar.

Inilah yang tersirat dalam unjuk wicara (talkshow) bertajuk “Menyulih Bahasa Menyalin Cerita” yang diadakan di Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta Pusat. Acara yang berlangsung pada Sabtu, 7 Desember 2019, masuk dalam program Litbeat Literaction Festival Goes to Communities yang bekerja sama dengan Komite Buku Nasional.

Hadir sebagai pembicara utama adalah Ahmad Fuadi selaku penulis Negeri 5 Menara dan Kartini Nurdin selaku Direktur Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan Ketua Perkumpulan Reproduksi Cipta Indonesia (PRCI). Anton Kurnia selaku anggota Komite Buku Nasional dan Direktur Penerbit Baca bertindak sebagai moderator yang memandu.

Kartini Nurdin dalam pemaparannya menuturkan bahwa buku-buku Indonesia sudah mulai banyak dikenal di luar negeri. Terutama, setelah ajang Frankfurt Book Fair 2015.

“Buku-buku Indonesia sudah mulai banyak dikenal di luar negeri. Apalagi, setelah ajang Frankfurt Book Fair 2015, di mana Indonesia menjadi tamu kehormatan (guest of honour) dengan stand cukup besar di sana,” tutur Kartini.

Sementara, Ahmad Fuadi bercerita pengalamannya mengenai salah satu bukunya yang diterjemahkan ke bahasa Inggris dan menjadi referensi dua mata kuliah di Universitas California Berkeley, Amerika Serikat.

“Kalau saya boleh bercerita nih, mungkin buat penyemangat temen-temen yang nulis dan bukunya mudah-mudahan diterjemahkan, banyak hal yang di luar bayangan kita yang terjadi ketika (buku, red) diterjemah (kan). Beberapa tahun yang lalu saya mendapatkan undangan dari Amerika dari seorang profesor dari Universitas California, Berkeley,” ujar Fuadi.

“Dia bilang: ‘boleh gak datang ke kampus kami’, saya bilang ‘ngapain?’ dia bilang, ‘ya Anda jadi residen di sini’,‘terus ngapain, dia bilang ‘Anda cerita aja tentang buku Anda’. Waktu itu saya bingung, buku saya kan lokal sekali, ceritanya lokal. Cerita anak kampung masuk pesantren kampung, ga ada yang spesial buat sebuah kampus. Ternyata, bagi mereka karena lokalitas itulah yang menjadi spesial dan karena itulah diundang. Kenapa diundang, karena diterjemahkan,” tutur Fuadi lebih lanjut.

 

buku bajakan

Jauhkan Diri Kamu dari Buku Bajakan!

Film Imperfect

Film Imperfect Tampilkan Sosok Jessica Mila yang Berbeda