in ,

Mengenang Sejarah Konferensi Asia-Afrika Pertama

Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika pertama
Foto: instagram asiaafricamuseum

Ngobrolin.id — Tepat pada hari ini 64 tahun yang lalu, Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika pertama digelar di Bandung, Indonesia. Peristiwa tersebut merupakan kejadian bersejarah yang membuat nama Indonesia semakin dikenal sebagai salah satu pelopor Gerakan Non-Blok.

Konferensi ini digelar oleh negara-negara di wilayah Asia dan Afrika yang sudah merdeka ataupun yang baru saja memperoleh kemerdekaan. Pertemuan tersebut berlangsung di Gedung Merdeka yang terletak di Kota Bandung. Kini, bangunan tersebut diabadikan sebagai museum.

Ada lima kepala negara yang menginisiasi gerakan ini. Mereka adalah Ali Sastroamidjojo yang berasal dari Indonesia, Mohammad Ali Bogra dari Pakistan, Jawaharlal Nehru dari India, Sir John Kotelawala dari Sri Lanka, dan U Nu dari Myanmar.

Total negara yang mengikuti kegiatan ini ada 29 negara antara lain Afghanistan, Jepang, Vietnam, hingga Yordania. Beberapa negara diberi status pengamat. Beberapa negara pun mendadak berhalangan hadir karena masih terjadi konflik di negaranya.

Latar belakang adanya konferensi ini adalah adanya perang dingin yang terjadi antara Rusia (Uni Soviet) dan Amerika Serikat. Selain itu, terdapat pertentangan dari negara yang mengikuti konferensi dengan kolonialisme.

Konferensi yang berlangsung pada 18 hingga 25 April 1955 itu menghasilkan Dasasila Bandung. Isi dari Dasasila ini berisi sepuluh poin, yang intinya ‘pernyataan mengenai dukungan bagi kerukunan dan kerja sama dunia’. Hasil tersebut menggabungkan prinsip-prinsip dalam piagam PBB dan prinsip-prinsip Nehru.

Setelah konferensi ini, berlangsung pula Konferensi Solidaritas Rakyat Afro-Asia yang diselenggarakan di Kairo pada September 1957. Menyusul kemudian Konferensi Beograd yang berlangung pada 1961. Hasil kesepakatan konferensi tersebut menginisiasi adanya pembentukan Gerakan Non-Blok.

Anggota Gerakan Non-Blok sendiri terdiri lebih dari 100 negara yang mengaku tidak beraliansi dengan kekuatan manapun. Tujuan dari gerakan ini adalah untuk menjamin kemerdekaan, kedaultan, integritas teritorial, dan keamanan dalam negara-negara yang bergabung. Mereka juga menentang imperialisme, kolonialisme, neokolonialisme, apartheid, dan rasisme.

Lima puluh tahun berlalu, pada 2005 kembali di gelar Konferensi Asia Afrika di Bandung dan Jakarta pada 19—24 April. Dan pada 2015, diadakan pertemuan konferensi ini untuk yang ketiga kalinya.

nyeri serviks pada anak

Parents, Waspadai Nyeri Serviks pada Anak karena Gawai

perjalanan karier Stars and Rabbit

Menelisik Perjalanan Karier Stars and Rabbit