in

Minke dan Annelies, Kisah Semasa Kolonial Belanda yang Disorot Dunia

Bumi Manusia
Foto: instagram

Ngobrolin.id — Nama besar Pramoedya Ananta Toer sudah tidak asing di telinga para pencinta sastra. Begitu pula dengan Bumi Manusia. Novel pembuka tetralogi Buru tersebut sudah menggema di seluruh dunia. Tak hanya dalam bentuk buku, versi filmnya pun tengah digarap oleh sutradara Hanung Bramantyo.

Bumi Manusia ditulis Pram ketika menjadi tahanan politik di Pulau Buru, Maluku. Di sana, karyanya lebih dahulu disita oleh Jaksa Agung. Namun, ia sempat meminta teman-temannya membaca dan mengingat. Pram pun menuliskannya kembali sekeluar dari pengasingan.

Novel roman ini menceritakan tentang kehidupan Raden Mas Minke, anak seorang bupati yang sekolah di HBS Surabaya. Mengambil latar waktu pada awal abad 20, cerita tersebut berlokasi di Surabaya, tempat Minke bersekolah, Wonokromo, tempat Annelies tinggal, dan Kota B, kota asal Minke.

Minke sering kali dikucilkan karena warna kulitnya. Terlebih, tak satu pun dari temannya yang merupakan suku Jawa asli bersekolah di HBS. Kebanyakan merupakan orang Eropa totok, sebutan untuk orang Eropa berdarah murni. Selain itu, ada beberapa orang yang merupakan keturunan campuran Indo-Eropa. Jika pun ada, ia adalah anak angkat dari keluarga Eropa totok.

Di balik sosoknya yang marginal, Minke ternyata seorang penulis yang tulisannya kerap dimuat di media massa. Dengan nama samaran Max Tollenaar, ia kerap mengisi koran-koran dengan pemikirannya.

Salah satu kawan sekolahnya, Robert Surhof, mengajak Minke mengunjungi temannya yang bernama Robert Mallema. Dari situlah perkenalan Minke dan Annelies dimulai. Annelies yang merupakan anak dari Nyai Ontosoroh, pemilik perusahaan pertanian terbesar di Wonokromo, menaruh hati pada Minke. Begitu pula sebaliknya.

Sayangnya, kisah cinta seorang Indo yang keberadaan ibunya tak diakui undang-undang juga seorang Jawa yang baru saja tamat sekolah itu tidaklah mudah. Konflik bergulir ketika ayah Annelies, ditemukan meninggal dunia karena diracun. Teman-teman sekolah Minke yang tak menyukai keberadaan Minke, juga mulai membuatnya tersudut.

Buku ini sendiri telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa, termasuk bahasa Inggris, Jerman, Belanda, dan banyak lagi. Sosok Minke sendiri merupakan versi fiksi dari seorang tokoh pers Indonesia, Tirto Adhi Soerjo.

Penggambaran yang sangat detail oleh Pram pada Bumi Manusia akan membawa pembacanya ikut terjun dalam kehidupan kolonial. Ketimpangan sosial dan ketidakadilan juga bisa bikin geram, sekaligus iba pada sejarah bangsa ini.

Kalau kamu suka buku yang sedikit berat dan berbobot sejarah, sudah pasti Bumi Manusia harus masuk dalam bacaan wajibmu. Pun, jika kamu hanya tertarik karena hendak difilmkan, tak ada salahnya membaca versi original dari kisah yang mendunia ini.

pemilihan umum 2019

Ini Beda Pemilu 2019 dengan Lima Tahun Silam

Apa kinetoskop itu

Mengenal Kinetoskop, Pemutar Film Pertama di Dunia