in

Mircale in Cell No 7 Dibuat Versi Indonesia

film popular yang berhasil membuat banyak orang menangis

miracle in cell no.7
foto: instagram @falconpicture

Ngobrolin.id — Falcon Pictures kini sedang menggarap film asal Korea Selatan yang berjudul Miracle in Cell No.7. Film tersebut merupakan film populer di negara asalnya dan kini sudah banyak penggemar film tersebut dari berbagai negara. Kabar baiknya, Miracle in Cell No. 7 akan dibuat versi Indonesia-nya oleh Falcon Picture yang menggandeng Hanung Bramantyo sebagai sutradara dalam film adaptasi tersebut.

Dalam akun Instagram resmi Falcon Picture, pihaknya pun sudah membocorkan para pemain yang akan berperan dalam film adaptasi tersebut, di antaranya Vino G. Bastian, Tora Sudiro, Bryan Domani, Indra Jegel, Graciella Abigail, dan Muhammad Rizki Rakelna. Dalam postingan tersebut para pemain terlihat sedang asik bergoyang ubur-ubur yang sempat viral di TikTok sambil mengenakan baju tahanan penjara, salah satu ciri khas film Miracle in Cell No.7.

Film aslinya sudah dirilis sejak 2013 dan digarap oleh sutradara Lee Hwan Kyung. Para pemain yang berperan di dalam film aslinya adalah Park Shin Hye, Ryu Seung Ryong, Kal So Woon, Oh Dal Su, dan masih banyak lagi.

Film ini bercerita tentang seorang pria berketerbelakangan mental yang masuk ke penjara karena dituduh sebagai pembunuh sekaligus melakukan pelecehan seksual terhadap anak perempuan. Padahal, pria tersebut memiliki anak perempuan yang masih kecil. Keadaan tersebut membuat pria tersebut harus berpisah dari putri kecilnya.

Di dalam penjara, pria tersebut berteman dengan para pelaku kejahatan dan menjalin hubungan pertemanan dengan mereka. Tak disangka, ternyata para napi senior tersebut justru membantu pria tersebut untuk menyelundupkan anaknya ke dalam penjara untuk menebus rasa rindu pria tersebut dengan putri kecilnya. Banyak warganet yang mengaku terharu saat menonton film ini, bahkan banyak yang meneteskan air mata.

Hanung Bramantyo selaku sutradara film adaptasi tersebut mengakui beban film tersebut sangat berat dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Jika biasanya ia menyutradai film yang diadaptasi dari novel, kini ia harus menyutradai film yang berasal dari film.

Hanung harus mengemas cerita yang sudah pernah tayang agar para penonton tertarik untuk menonton versi Indonesia-nya. Pasalnya, para penonton sudah tahu seluruh karakter, jalan cerita, hingga akhir cerita. Jadi, kita tunggu saja ya apakah versi Indonesia-nya ini akan sukses seperti versi aslinya atau justru sebaliknya.

 

 

 

virtual wedding

Viral Virtual Wedding dengan Green Screen Besutan WO di Yogyakarta

iktikaf

Iktikaf yang Ramai pada 10 Malam Terakhir Ramadan