in ,

Pelancong Bisa Tebus Rindu Berpetualang dengan Tiket Flight to Nowhere

tertarik untuk berwisata di pesawat?

flight to nowhere
foto: pixabay

Ngobrolin.id — Salah satu yang dirindukan selama pandemi adalah berpetualang ke suatu tempat. Seluruh destinasi wisata juga melakukan pembatasan pengunjung secara ketat hingga waktu yang belum ditentukan. Hal yang dirindukan dari berpetualang adalah sensasi menaiki transportasi, seperti kereta, mobil, kapal laut, dan pesawat terbang. Qantas Airways Ltd. menghadirkan inovasi terbaru, yaitu tiket flight to nowhere.

Flight to nowhere adalah terbang dan mendarat di bandara yang sama. Jadi, kamu tidak perlu mengunjungi tempat tertentu, kamu hanya perlu duduk manis di pesawat sambil diajak berjalan-jalan di angkasa. Rencananya, pihak Qantas Airways akan mengoperasikan penerbangan wisata selama 7 jam di atas langit Australia seperti dilansir dari CNN.

Terobosan ini juga dikeluarkan oleh pihak maskapai untuk mengatasi permasalahan penurunan jumlah penerbangan selama pandemi. Pasalnya, penurunan jumlah penerbangan terjadi sebesar 97,5 persen.

Pada penerbangan yang akan dilaksanakan bulan depan, Qantas akan menggunakan pesawat Boeing 787, pesawat tersebut biasa digunakan untuk penerbangan internasional jarak jauh.

Rute penerbangan yang akan membawa wisatawan terbang dan mendarat di bandara yang sama akan lepas landas dari Sydney. Rute penerbangannya adalah Uluru, Great Barrier Reef, Sydney Harbour, dan akhirnya mendarat kembali di Sydney.

Tiket penerbangan flight to nowhere dibanderol sebesar AUD$ 787 hingga AUD$ 2.878 atau setara dengan Rp8,5 juta hingga Rp41,2 juta. Harga tiket tersebut bergantung pada kelas penerbangan yang dipilih.

Namun, ternyata penawaran tiket flight to nowhere menuai kontroversi. Grup pegiat lingkungan SG Climate Rally menentang inovasi tersebut karena dianggap akan menyumbang lebih banyak emisi karbon dari kegiatan yang tidak esensial.

Qantas menyebutkan pihaknya bersedia membayar sejumlah biaya untuk mengimbangi emisi karbon yang dihasilkan dari penerbangan tersebut.

Ternyata, bukan hanya Qantas yang mengeluarkan terobosan tersebut. Ada beberapa maskapai penerbangan Asia lainnya yang juga ingin mengeluarkan terobosan tersebut, di antaranya EVA Airways, Corop Taiwan, dan ANA Holdings Inc Jepang.

Harus diakui bahwa maskapai penerbangan memang salah satu industri yang paling terdampak di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini.

 

presenter jejak petualang

Deretan Para Presenter Jejak Petualang yang Membawa Pemirsa Keliling Indonesia

vitamin

Vitamin dari Bahan Alami yang Dibutuhkan Selama Pandemi