in

Roti Buaya, Orang Betawi Belum Tentu Pernah Memakannya, Lho!

Kamu sudah pernah mencoba, belom?

Roti Buaya
foto: Oleh Gunawan Kartapranata - Karya sendiri, CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=26922133

Ngobrolin.id— Buat kamu yang tinggal di Pulau Jawa, khususnya di Ibu Kota DKI Jakarta pasti sudah tidak asing dengan kata-kata roti buaya. Roti buaya merupakan hantaran pernikahan orang Betawi sebagai simbol kesetiaan. Namun, tahukah kamu, tidak semua orang Betawi pernah mencicipi roti ini.

Roti buaya dibawa sebagai hantaran dari keluarga mempelai pria, totalnya ada dua buah atau sepasang sebagai simbol dari sepasang suami istri yang akan menikah. Roti tersebut juga menjadi simbol kesetiaan, kesabaran, dan kestabilan ekonomi.

Dalam tradisi keluarga Betawi, roti ini memang hanya dibawa oleh keluarga mempelai pria untuk keluarga mempelai wanita sehingga anggota keluarga mempelai pria tidak boleh mencicipi roti yang dibawa, kecuali keluarga mempelai wanita mempersilakannya. Nah, jadi buat mereka yang kebanyakan anggota keluarganya laki-laki, kemungkinan besar mereka belum pernah mencicipi roti yang melambangkan kesetiaan ini.

Tradisi ini bermula dari kisah siluman buaya yang tinggal di sumber mata air yang berada di sekitar pemukiman masyarakat Betawi. Siluman buaya tersebut menjaga sumber mata air tersebut, sumber kehidupan bagi masyarakat Betawi. Di sekitaran sumber mata air tersebut ditumbuhi pepohonan rimbun sehingga membuat daerah tersebut terkesan angker.

Masyarakat Betawi harus permisi dengan sopan ketika melewati sumber mata air tadi.  Dilansir dari kompas.com, siluman buaya tersebut disebut sebagai aji putih nagaraksa.

Buaya dijadikan sebagai simbol dari kehidupan dalam proses pernikahan karena buaya memang merupakan hewan yang setia pada pasangannya. Konon, buaya hanya memiliki satu pasangan di sepanjang hayatnya. Jadi, jangan terkecoh dengan kata-kata ‘buaya darat’ karena maknanya berbeda.

Dahulu, hantaran simbol buaya tidak dibuat dari roti. Simbol buaya terbuat dari anyaman daun kelapa. Setelah berkembangnya zaman, akhirnya hewan ini mulai dibentuk dengan menggunakan roti. Roti yang digunakan merupakan roti tawar tanpa rasa. Roti tersebut tidak boleh dimakan dan hanya dijadikan sebagai pajangan saja sampai busuk.

Setelah masuk abad ke-20, roti buaya sudah bisa dimakan karena dianggap mubazir jika dibiarkan membusuk begitu saja. Makanya, sekarang roti tersebut dibuat dari roti manis. Roti tersebut bisa dimakan oleh keluarga mempelai wanita. Kalau berlebih, boleh diberikan ke tetangga di sekitar.

orang introver

Rata-rata Orang Introver Sangat Mudah Berteman dengan Hewan Peliharaan

Film Sesat

Review Film Sesat, Gak Serem Tapi Bagus!