in

Sejarah Sungai Ciliwung, Sungai Tua yang Menyimpan Banyak Histori

Sebagian besar warga Jabodetabek pasti pernah melewati sungai ini

sungai ciliwung
foto: Indonesia.go.id

Ngobrolin.id — Siapa yang belum pernah mendengar nama Sungai Ciliwung? Meskipun kamu belum pernah melewati sungai panjang ini, setidaknya kamu pasti pernah mendengar namanya. Sungai ini berada di tiga kota besar, yakni Bogor, Depok, dan berakhir di Jakarta.

Saat ini wajah Sungai Ciliwung tidak lebih dari sungai besar yang sering meluap di Kota Jakarta di musim hujan. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya tumpukan sampah yang memenuhi sungai. Padahal, zaman dahulu Sungai Ciliwung menjadi salah satu bagian sejarah yang diandalkan oleh masyarakat. Hal ini terbukti dari banyaknya peninggalan prasejarah yang ditemui pada aliran sungai tersebut.

Orang Betawi meyakini bahwa sungai ini bermula dari sumber mata air yang terdapat di Mega Mendung yang saat itu masuk wilayah Keresidenan Buitenzorg (Bogor). Mata air tersebut mulai membentuk sebuah dasar sungai yang bergerak ke wilayah utara. Namun, ketika Gunung Salak Meletus pada 4—5 November 1699, aliran sungai menjadi keruh dan rusak. Letusan tersebut juga menyebabkan aliran sungai berkelok-kelok.

Pada masa Pemerintahan Hindia-Belanda, Sungai Ciliwung mulai dibersihkan. Namun, usaha pemerintah tidak berjalan mulus karena kondisi lingkungan sungai tersebut buruk dan masih banyak masyarakat yang membuang sampah ke sungai. Padahal, pemerintah sudah mengeluarkan berbagai peraturan terkait kebersihan lingkungan sungai.

Seiring berjalannya waktu, Batavia atau Jakarta berkembang dengan mengikuti arus aliran Ciliwung. Pada 1632, Sungai Ciliwung di dalam wilayah tembok kota mulai diluruskan menjadi kali besar. Di sepanjang sisi sungai tersebut dibangun rumah-rumah penduduk untuk bangsa Eropa. Sementara, pada 1699, letusan Gunung Salak membuat garis pantai menjorok hingga 75 meter dan menyebabkan sungai menjadi dangkal.

Pada abad ke-17, Pemerintah Belanda memprediksi Sungai Ciliwung sudah tidak bisa digunakan sebagai jalur transportasi karena kondisi sungai yang makin dangkal. Pada akhir abad ke-17, di sungai tersebut terdapat 16 kincir penggilingan gula, mengingat sungai ini melewati perkebunan tebu yang berada di Kali Sunter dan Kali Pesanggrahan. Sayangnya, limbah penggilingan gula tidak dikelola dengan baik sehingga turut berkontribusi menyebabkan kedangkalan sungai.

Sementara itu, di luar daerah Jakarta, pada 1482—1567, Ciliwung digunakan oleh Kerajaan Padjajaran sebagai benteng alam. Saat itu Kesultanan Banten yang sedang berseteru dengan Padjajaran membutuhkan waktu 40 tahun untuk menaklukkan Ibukota Pakuan (Bogor) karena adanya dua sungai besar, yaitu Ciliwung dan Cisadane serta dua gunung, yaitu Gunung Salak dan Gunung Pangrango.

 

17 Selamanya

Drama Web Series Terbaru yang Bakal Tayang

memilih hijab

Tips Memilih Hijab Saat Traveling